"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." (Amsal 1:7)

Menjadi Murid Kristus

Penulis: 
Ev. Dr. Eddy Fances
Kategori: 
Pemuridan

Tuhan Yesus memberikan Amanat AgungNya sebelum Dia naik ke sorga: “Pergilah, jadikanlah segala suku bangsa muridKu ... ” (Matius 28:19). Unik sekali bahwa kata “murid” dalam Perjanjian Baru tercatat 269 kali, kata “kristen” hanya 3 kali, dan kata “orang percaya” hanya 2 kali. Ini memberikan kita gambaran betapa pentingnya panggilan Tuhan Yesus bagi kita yang sudah percaya kepadaNya, agar kita menjadi “muridNya”. Selain itu menegaskan bahwa tugas pelayanan “orang percaya” (gereja) adalah menjadikan segala bangsa murid Kristus, bukan sekedar menghasilkan orang percaya. Itulah sebabnya tugas “pekabaran Injil” tidak boleh terlepas dari tugas “pemuridan”. Dengan kata lain, tanpa pemuridan penginjilan akan menjadi sia-sia.

Jelaslah bahwa untuk menjadi murid Kristus, seseorang harus menjadi “orang percaya”; namun sesungguhnya tidak semua orang yang percaya telah menjadi murid Kristus. Lihat: Luk.14:25-33.

Kotbah Tuhan Yesus tentang “Delapan Sabda Bahagia” dalam Matius 5:1-12 merupakan delapan karakter fondasi bagi seorang murid Kristus untuk membangun kehidupan dan pelayanannya yang bahagia dan yang berkenan kepada Allah. Karakter fondasi ini juga menjadi tanda-tanda seorang murid yang sejati, seorang warga Kerajaan Allah yang berkualitas. Kedelapan tanda ini tidak terpisahkan satu dengan lainnya; semua tanda seharusnya dimiliki oleh setiap murid Kristus.

 

Karakter Murid Kristus:

  1. “Miskin di hadapan Allah” (Mat.5:3).
    “Miskin” disini bukanlah secara material, melainkan secara spiritual, yaitu pengakuan dengan rendah hati bahwa kita lemah, berdosa, tak berdaya, dan ingin bergantung dan berharap kepada Tuhan secara total.
  2. “Berdukacita” (Mat.5:4).
    Kata “berdukacita” disini bukanlah kesedihan karena kehilangan sesuatu atau seseorang, melainkan kesedihan yang erat hubungannya dengan kemiskinan rohani diatas. Mereka yang berdukacita bukan saja berhubungan dengan pertobatan dari dosa pribadi, tetapi juga dengan keadaan sekitarnya.
  3. “Lemah lembut” (Mat.5:5).
    Lemah lembut tidak sama dengan lemah tak berdaya atau lemah lunglai; melainkan suatu sikap penguasaan diri, tidak dendam, dan bermotivasi baik terhadap orang lain.
  4. “Lapar dan haus akan kebenaran” (Mat.5:6).
    Kebenaran disini mengandung 3 aspek:
    • aspek legal yaitu hubungan yang benar dengan Allah;
    • aspek moral yaitu sikap dan perbuatan yang berkenan kepada Allah; dan
    • aspek sosial yaitu yang berhubungan dengan sesama manusia, misalnya: isu-isu HAM, keadilan sosial dan hokum di masyarakat, integritas dalam usaha/karier, dan isu-isu kehormatan keluarga.

    Murid yang sungguh berbahagia dan diberkati adalah mereka yang benar-benar rindu dan haus akan Allah Sendiri, bukan hanya mengharapkan berkat-berkat yang diberikanNya. Karena sesungguhnya dalam pribadi Allah sendirilah terletak semua sumber yang akan memberikan kepuasan terhadap “kelaparan” dan “kehausan” manusia.

  5. “Murah Hati” (Mat.5:7).
    Kata “murah hati” disini berarti suatu kemampuan untuk “masuk ke dalam situasi” (mengerti, simpati, empati = berbelas kasihan), kemudian “melakukan sesuatu” kebaikan.